We are all unique individuals. Kita memiliki anggota tubuh, penampilan, dan pikiran yang berbeda dengan orang lain. So be your self !!!

Monday, July 4, 2011

Belajar dari Burung ELANG

Elang adalah pasangan yang setia, sekali kawin untuk selamanya, FOREVER kalo kata manusia. Elang betina ibu yang teladan, mengurus anak mereka dengan Cinta dan Kasih  Sayang. Sebelum bertelur Elang menyiapkan sarang di bukit/gunung yang tinggi dan di bawahnya jurang yang dalam. Rangkanya ranting keras dan duri tajam dilapis rumput rumput halus dilapis dengan mencabut bulu didadanya agar sarang anak anaknya Enak dan Nyaman.
 
Setelah bertelur dan dierami akhirnya telurnya menetas jadilah si Anak Elang. Bila lapar, anak anak elang akan menengadahkan paruhnya, kemudian sang ibu memasukkan makanan hasil buruannya. Bila ada angin kencang sang ibu pun Menghadang dengan merentang sayap menutup sarang memberi perlindungan
 
Si anak anak pun mulai tumbuh besar, dan suatu saat si anak elang kaget karena jatah makanan mereka tiba tiba dihentikan oleh sang ibu. Perangai sang ibu berubah drastis dan mereka menangis kelaparan "ibu kenapa jadi begitu?" kata anak anak elang
 
Suatu saat si anak elang kaget lagi karena sang ibu menyingkirkan rumput halus dan bulu bulu hangat yang jadi "kasur" mereka. Di sarang mereka yang tersisa tinggal ranting keras dan duri tajam menusuk badan . Mereka menangis kesakitan "ibu tega nian engkau?"
 
Belum hilang penderitaan yang dirasakan,  si anak elang kaget ketika diusir dari sarang, didorong keluar jatuh melayang "ibu kenapa kau mau bunuh anak anakmu?". Namun saat jatuh hampir sampai dasar jurang, sang ibu dengan sigap menyambar menyelamatkan sang anak. Demikianlah berkali kali mereka dijatuhkan. Sampai suatu saat anak elang itu mulai bisa mengepakkan sayap dan akhirnya TERBANG!
 
Sang ibu dan bapak elang dengan riang mengajak anak anaknya terbang di atas awan lalu belajar mencari binatang buruan.
 
Nah... barulah si anak elang sadar kalau orang tuanya sedang mengajarkan kerasnya KEHIDUPAN. Ia harus bisa mandiri di belantara alam yang kejam untuk melestarikan kehidupan.
 
Elang mengurus anak dengan cinta tapi ada saatnya harus tega agar anaknya jadi "orang" yang punya "Mental Juang" di masa yang akan datang.
 
Moral story:
Tuhan sang pemilik semesta alam sudah menyiapkan alat untuk bertahan hidup bagi seluruh makhluknya. Namun manusia sebagai makhluk tertinggi mendapatkan lebih dari makhluk hidup lainnya yaitu otak, dengan otak manusia bisa berpikir apa yang terbaik yang bisa dilakukan, namun kadang kala justru otak manusia membuat manusia kehilangan jati dirinya. Manusia cenderung mencari kemudahan, seperti pomeo buat apa cari yang susah susah kalau ada yang gampang, padahal apa yang susah di awal justru jadi fondasi kehidupan yang kokoh yang membuat hidup selanjutnya terasa jauh lebih ringan.
 
CoPas dr the Profec

No comments: