We are all unique individuals. Kita memiliki anggota tubuh, penampilan, dan pikiran yang berbeda dengan orang lain. So be your self !!!

Thursday, January 21, 2010

Leluhurku Sayang Leluhurku Preman

Dr. Okanegara

www.devari.org

Note: Nunas ampura dan tabik pekulun mantuk ring leluhur yg kebetulan baca
postingan ini dan tidak berkenan, tidak ada maksud untuk langgana, hanya
sebuah proses untuk menuju pencerahan. Sekali lagi, ampurayang!

Kata bapak dan ibu guru kita dulu di sekolah, katanya secara umum ada dua
makna kata/kalimat dalam bahasa Indonesia yaitu makna denotasi (yang
sebenarnya/literal) dan makna konotasi (makna kiasan). Pun dengan judul
postingan kali ini, ada mengandung makna konotasi khususnya pada frasa
leluhurku preman. Leluhur dan preman tentu tidak bisa dijadikan analogi
secara horizontal, dunianya saja sudah beda: dunia nyata dan dunia sana
(dimana ya?). Di samping itu, sebagai seorang pribadi Bali Hindu maka bagi
saya, menghormati dan memuja leluhur merupakan satu harga mati yang tidak
bisa ditawar lagi.

Postingan ini masih berkaitan dengan artikel nunas baos terdahulu. Jika
diperhatikan hasil hasil dari nunas baos tersebut terutama yang berkaitan
dengan leluhur, maka sebagian besar hasilnya adalah selalu mempunyai benang
merah yang sama: leluhur itu menerapkan sistem pukul dulu urusan belakangan
(tipikal preman). Dalam artian, menghukum dulu dan alasan belakangan. Iya
kalau hukumannya ringan, kalau sampai masalah hidup mati? Berikut ini
beberapa contoh kejadian yang mungkin saja pernah anda/orang2 disekitar anda
alami.

1. Kejadian satu: Orangtua si A pergi nunas baos ke beberapa orang pintar
karena anak semata wayangnya sakit keras yang menyebabkan si A menjadi
hampir lumpuh. Sudah berobat medis kesana kemari tidak sembuh juga. Hasil
semua nunas baos sama: dikatakan leluhur marah karena ada yang salah dalam
tata letak sanggah rong dua dan rong tiga, harus diubah dan atau menambah
sanggah baru. Hasil nunas baos dilaksanakan, si A sembuh total.

2. Kejadian dua: Keluarga si B pergi nunas baos karena merasa selalu
tertimpa musibah yang besar (kecelakaan, kehilangan etc dan keluarga tidak
pernah akur). Hasil dari beberapa juragan baos: leluhur tidak berkenan
karena dulu pada saat melakukan upacara ngaben ada suatu prosesi/banten yang
kurang sehingga beliau ngrebeda. Hasil nunas baos dilaksanakan. Keadaan
keluarga itu membaik walaupun yang hilang itu tidak ditemukan lagi.

Dari dua contoh di atas, mengapa para leluhur yang kita hormati itu tidak
bisa 'membicarakan' secara baik-baik tentang apa2 yang menjadi kekurangan2
ataupun kesalahan2 kita? Bisa dengan cara mimpi, kerauhan (trance) ataupun
petunjuk2 gaib lainnya. Mengapa harus main pukul duluan? Untuk kejadian
satu: jika memang terjadi kesalahan tata ruang sanggah, beritahukan secara
baik2 dengan cara2 gaib. Saya yakin, jangankan diminta membangun satu lagi
sanggah, 5 atau 10 sanggah pun akan dibangun jika memang itu diperlukan.
Lalu kejadian dua: jika memang kurang prosesi/banten upacara, pasti kita
akan lakukan prosesi itu, biarpun misalnya nambah satu truk banten lagi.

Iseng saya tanyakan pada pemangku di desa tentang hal ini. Ada beberapa
jawaban dari mereka diantaranya adalah:

1. Leluhur itu sangat sayang terhadap keturunannya sehingga masih untung
diperingatkan (walau dengan jalan keras), daripada langsung dicabut nyawanya
Rasanya jawaban ini kurang memuaskan, kok masih untung? sudah jelas2 hampir
buntung

2. Luluhur itu malu dan gengsi untuk 'membicarakan' hal2 itu secara baik2
sehingga ditempuhlah cara2 pukul duluan itu. Loh, masak di dunia sana masih
malu dan gengsi sih. Itu kan sifat2 manusia. Kurang puas juga dengan jawaban
ini

3. Leluhur itu ekspektasinya tinggi (perfeksionis) terhadap kewajiban2 yang
harus dilaksanakan oleh para keturunannya sehingga penyimpangan2/kesalahan2
(sengaja atau tidak) dianggap sebagai sebuah dis-respect thd leluhur dan
patut mendapat hukuman. Jawaban ini masuk akal tapi ada sedikit keegoisan
disini. Manusia kan tidak sempurna, pasti ada kesalahan2, saya misalnya,
bagaimana mungkin saya tahu ttg peraturan2 tata letak sanggah? Lagian
leluhur kan sudah dekat tuh dengan dunia Tuhan jadi harusnya punya sifat2
pemaaf dan pembimbing.

Setengah bercanda setengah serious, sering saya bilang/berpesan kepada ortu saya. Bapak, Ibu, kalau nanti sudah meninggal dan jadi leluhur dan melinggih di rong dua, tolong kalau ada apa2 komunikasikan secara baik2 ya dengan saya. Kalian tahu I love you so much jadi apapun itu semasih bisa, pasti akan saya lakukan. Jangan main pukul duluan. Jangan gengsi dan jangan malu. Juga, kalian tahu sendiri saya sangat bodoh tentang dunia2 spiritual. So do not expect sesuatunya berjalan sempurna.

No comments: