We are all unique individuals. Kita memiliki anggota tubuh, penampilan, dan pikiran yang berbeda dengan orang lain. So be your self !!!

Saturday, January 23, 2010

NLP Untuk Berat Badan Ideal

Posted in www.indonesianlpsociety.org
Discuss it in idnlpsociety-subscribe@yahoogroups.com

Ted, nggak salah tuh?
Apanya yang salah dan enggak?
Ya itu, mau sharing tentang NLP dan slimming.
Emang apa yang salah?
Kok tiba-tiba menclok ke dunia per-slimming-an?
Nggak menclok kok.
Terus?
Hanya berbagi pengalaman. Tahun 2008 kan tahun berat badan tertinggi tuh, 72

kg. Nah, di pertengahan 2009 turun hingga 68. Terus turun hingga mencapai
titik stabil di 61. Bahkan pernah 59. Semuanya tanpa diet.
Hah! Yang bener tuh? Tanpa diet?
Bener. Makan enak, aktivitas biasa. Tubuh seperti mengatur sendiri kapan
harus berhenti, kapan harus menambah.
Waaaah, mau donk dibagi pengalamannya!
Nah, ini baru mau ditulis.

Demikianlah obrolan singkat saya dengan seorang kawan yang mendengar bahwa
saya akan berbagi pengalaman di NLP Talks dengan judul "Slim WithOut Pain".
Karena selama ini saya banyak dikenal sebagai praktisi NLP untuk urusan
bisnis dan pendidikan, maka kawan saya ini jadi penasaran ketika mengetahui
saya seolah berpindah haluan ke soal-soal kesehatan.

Well, bagi saya, saya tidak sedang berpindah haluan. Sebab haluan saya ya
memang satu: aplikasi NLP di semua bidang. Dan karena obyek NLP adalah
manusia, maka saya berani mengatakan bahwa dimana ada manusia, di situ lah
NLP bisa berperan aktif.

Lalu, apa sebenarnya yang akan saya bagikan?

Sederhana kok. Saya sendiri heran dan masih terus memodel apa yang terjadi
dalam diri saya. Kok bisa-bisanya berat badan saya turun ke titik yang saya
inginkan, tanpa ada program khusus. Karena saya menganggap hal ini sebagai
salah satu hal yang ekselen, maka alarm NLP saya pun menyala keras, "Woooi,
model woooi! Jangan dianggurin aje tuh!" Begitu lah kira-kira alarm tersebut

memperingatkan saya.

Tentu saja masih banyak orang lain yang mengalami perubahan jauh lebih
dramatis daripada saya. Maka dari itu saya juga masih terus mencari dan
mengembangkan model ini, sembari melakukannya pada diri sendiri.

Saya pun mengingat-ingat kembali perjalanan saya sejak akhir tahun 2008,
ketike berat badan saya mencapai titik tertinggi sepanjang saya hidup hingga

saat ini: 72 kg. Wah, sungguh repot. Tubuh terasa berat, celana dan baju
kesempitan semua, turun tangga latihan gempa ngos-ngosan, pokoknya nggak
nyaman sama sekali lah.

Entah apa yang terjadi ketika itu, berat badan saya pun turun hingga
mencapai 68 kg. Titik yang membuat saya PD, bahwa saya pasti bisa mencapai
berat badan ideal, sesuai dengan tinggi badan saya. Sungguh aneh, sebab
merasa tidak mengelola kegiatan makan saya secara sadar. Saya tetap makan
makanan-makanan favorit saya, saya tetap beraktivitas seperti biasa,
benar-benar tidak ada program khusus.

Namun, memang ada sesuatu yang berubah dalam pola makan saya.

Ya, tubuh saya seperti mengatur dirinya sendiri. Saat sedang kelaparan di
pagi hari, misalnya, saya makan cukup banyak. Nah, biasanya, meskipun sudah
makan cukup banyak, jam 10 perut saya sudah mulai keroncongan lagi tuh. Maka

turun lah saya ke koperasi kantor untuk mencari beberapa potong cemilan.

La sekarang ini beda sekali. Jika saya sudah sarapan cukup banyak, maka
otomatis perut saya aman sampai siang. Memang sesekali terasa keroncongan,
tapi sekarang saya seperti memiliki sebuah tombol pause, dengan bertanya
pada diri sendiri, "Kamu ini benar-benar lapar, atau mau nurutin nafsu makan

doank?" Nah, kalau sudah begini, biasanya saya pun tersadar dan mengurungkan

niat untuk makan cemilan lalu melanjutkan pekerjaan. Begitu pun yang terjadi

saat satu ketika saya makan berlebihan akibat ada rekan-rekan kerja yang
ulang tahun atau membawa cemilan sisa meeting di sore hari. Maka otomatis di

malam hari nafsu makan saya bisa hilang sama sekali, atau setidaknya menurun

drastis lah.

Sementara itu, saya juga menandai hal lain, yakni dalam soal pengaturan
makanan. Jika saya merasa sudah makan atau minum terlalu banyak gula, maka
secara otomatis saya jadi kepingin banyak minum air putih. Begitu pula saat
saya terlalu banyak makan makanan berlemak, saya pun kemudian jadi
kepingiiiiin banget makan sayur dan buah-buahan. Semuanya berlangsung secara

otomatis tanpa saya sadari saat ia terjadi. Seolah ada program baru
terinstal dalam diri saya untuk melakukan itu semua.

Ada apa ini?

Selidik punya selidik, saya pun menemukan beberapa kata kunci.

Pertama, saya sejak dulu percaya bahwa berat badan ideal itu kuncinya hanya
1: menyeimbangkan input dan output. Input adalah makanan, output adalah
aktivitas. Kalau yang kita makan sesuai dengan apa yang kita keluarkan,
berat badan kita ideal. Sementara kalau salah satu saja tidak seimbang, kita

pun kegemukan atau kekurusan. Nah, konsep keseimbangan ini saya rasakan
telah menjadi sebuah belief baru bagi saya dalam hal makanan. Maka tidak
heran jika perilaku-perilaku seperti saya ceritakan tadi muncul begitu saja,

sebab belief baru jelas memiliki repertoar perilakunya sendiri.

Kedua, kata 'makan' saya resapi memunculkan makna yang berbeda pada saya
saat ini. Saya ingat ketika saya masih gembul dulu, saya rupanya masih
menggunakan mindset makan mahasiswa, yang lebih mengutamakan kuantitas
daripada kualitas. Makan adalah untuk menghilangkan lapar, dan bikin kenyang

Jadilah saya gembul, sebab aktivitas fisik saya setelah bekerja jelas jauh
menurun dibandingkan ketika kuliah. Kembali ke hukum keseimbangan, maka
output saya kalah jauh dibandingkan input saya. Apalagi, kualitas makanan
(baca: makanan berlemak) yang saya makan pun meningkat. Klop sudah, gembul
mania.

Nah, sekarang ini, kata 'makan' rupanya memiliki makna yang multipel. Ia
bermakna sumber energi, sehingga kalau bisa menggunakanya itu ya sehemat
mungkin, namun dengan manfaat yang maksimal. Persis seperti para produsen
kendaraan bermotor yang selalu terobsesi untuk menciptakan kendaraan
berbahan bakar irit dengan tenaga yang besar. Maka makna ini menjadikan saya

fokus untuk mencari makanan yang dapat memberi energi maksimal, tanpa perlu
terlalu mengenyangkan perut. Sebab perut yang kenyang akan menambah beban
tubuh, sehingga toh makanan yang saya masukkan sebenarnya justru lebih
banyak digunakan untuk mengendalikan tubuh yang kelebihan beban ini.

Kata 'makan' juga bermakna ibadah, seperti halnya berbagai aktivitas lain.
Seiring dengan pengembangan Spiritual NLP yang saya lakukan sejak awal 2009,

saya menemukan bahwa kegiatan makan tidak akan berlebihan jika dilakukan
sesuai dengan ajaran agama.

Kok?

Begini ceritanya. Yang sederhana saja deh. Doa makan saja. Berapa banyak
orang yang membaca doa makan asal lewat? Padahal, doa makan adalah sebuah
cara yang ampuh untuk menyiapkan tubuh menerima dan mengolah makanan. Saya
merasakan bahwa membaca doa makan dengan penuh penghayatan rupanya
memunculkan sensasi khidmat nan nikmat saat makan. Sensasi inilah yang
kemudian menjadikan kegiatan makan tidak akan saya campur dengan kegiatan
lain yang akan mengurangi kenikmatannya. Nah, klop banget nih dengan apa
yang pernah saya dengar dari hasil penelitian (sayangnya, saya lupa
sumbernya) bahwa kebanyakan orang obesitas karena sering melakukan kegiatan
makan bersamaan dengan kegiatan lain seperti bekerja, menonton televisi, dll

Akibatnya, tubuh tidak benar-benar siap menerima makanan, plus tidak
benar-benar maksimal dalam mengolah makanan yang masuk.

Sementara itu, dalam doa makan yang biasa saya ucapkan, terkandung makna
bahwa kita meminta agar dihadirkan keberkahan dalam makanan yang kita makan.

Wah, ini jelas doa yang serius nih. Diucapkan pada Tuhan pula. Maka kegiatan

makan saya pun tidak menjadi kegiatan yang sepele lagi, sehingga berbagai
adab makan seperti duduk dan mengunyah hingga lumat pun berjalan secara
otomatis. Nah, saya lalu merasakan lagi, bahwa adab-adab ini rupanya juga
menyiapkan tubuh untuk menerima makanan dan mengolahnya dengan lebih mudah.

Semenjak penemuan inilah, saya tidak pernah lagi main-main dengan doa yang
saya ucapkan.

Ketiga, omong-omong soal menyeimbangkan menu, rupa-rupanya terjadi proses
perubahan submodalitas dalam diri saya terkait dengan jenis makanan yang
selama ini kurang favorit bagi saya. Ya, saya bukanlah penggemar sayuran.
Dulu, saya hanya makan sayuran jika sudah mulai sembelit. Entah bagaimana
mulanya, yang pasti saya mulai dapat merasakan kenikmatan makan sayur. Tidak

saja lidah saya berkompromi, tapi saya benar-benar merasakan asyiknya.
Apalagi yang namanya gado-gado. Wuih, kini bagi saya persis seperti makan
pizza!

Begitu pula dengan minum air putih. Saya yang penggemar minuman manis nan
berwarna, kini mampu meminum air putih dalam jumlah banyak dengan penuh
kenikmatan. Ya, seperti ada proses amplify di kerongkongan saya saat
merasakan kesegaran air putih, yang mengaliiiir terus hingga lambung.
Wuih…segar deh pokoknya!

Oh, jadi begitu caramu jadi kurus?

Begitulah.

Mudah ya?

Siapa yang bilang sulit?

Iya juga sih. Terus, kalau buat menggemukkan badan, bisa juga?

Ya. Langkah-langkah di atas kan memang bukan soal menurunkan berat badan,
melainkan mencapai berat badan yang ideal, tepat sesuai kebutuhan kita. Maka

orang yang terlalu kurus tentu akan meningkat berat badannya hingga mencapai

titik ideal itu.

Wah, asyik nih. Coba ah…

Demikianlah. Saya masih terus melakukan proses modeling, termasuk pada
beberapa rekan yang doyan makan namun tetap langsing. Namun setidaknya 3 hal

di atas sudah begitu nyata saya rasakan efeknya dalam diri saya. Di antara
ketiganya, 2 yang pertama merupakan kata kunci yang penting. Hidup adalah
soal menjaga keseimbangan. Keseimbangan dijaga, hidup pun tenang dan damai.
Sementara ketika setiap hal sudah bermakna ibadah, maka tidak akan ada
istilah merasa kurang sehingga perlu menambah yang tidak kita butuhkan.

Jadi, selamat memulai hidup baru!

Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://indonesianlpsociety.org>

No comments: